Popular Post

Showing posts with label Modern Culture. Show all posts

Keunikan Natal di Jepang

By : hari
Keunikan Natal Di Jepang

Halloo konbanwa minna-san, ada yang tau kalau sebenarnya hari natal di jepang yang lebih tepatnya tanggal 25 Desember di jepang itu bukanlah tanggal libur! Unikkan, yuk kita bahas lebih lanjut.

    

1. Merayakan natal lebih awal
      Merayakan  natal lebih awal? seperti yang saya jelaskan tadi, bahwa di jepang hari natal bukanlah tanggal libur, orang-orang akan bekerja seperti biasa. Jadi bagaimana mereka merayakan natal? Jawabannya adalah mereka merayakan natal lebih awal, lebh tepatnya tanggal 24 malam natal (Christmas Eve).Biasanya mereka berkencan, pergi ketempat karaoke bersama teman, berbelanja, berkumpul dengan keluarga dan lain-lain.
      
2.  Kue Natal
      Toko-toko di jepang banyak menyiapkan kue natal yang bervariasi dari bentuk, dekorasi sampai rasa. Kebanyakan yang menggemari ini adalah para wanita, karena bentuk dan rasanya yang menggugah selera.
      
3.   KFC
      KFC? Kenapa KFC? itu dikarenakan orang jepang suka makan KFC ketika berkumpul dengan keluarga pada hari Natal. Itu berawal pada saat mereka melihat iklan KFC yang di mana orang Amerika memakannya untuk merayakan natal, saat itulah orang jepang berbondong-bondong ke KFC.

 4.  Berkencan
      Kebanyakan anak-anak muda pada saat malam natal berkencan dengan pasangannya masing-masing, banyak di temui pasangan-pasangan anak muda maupun dewasa yang berkencan di sana-sini di sepanjang jalan pada malam natal.Bagi yang tidak punya pasangan alias jones, mereka ngumpul sama bareng dan berpesta, bahkan sampai mabuk.

Gaya Pacaran Orang Jepang

By : MUNADIE


Mengintip Gaya Pacaran Orang Jepang
Di Jepang moment nembak cewek namanya

Kokuhaku, biasanya sebelum menyatakan cinta, seorang cowok bakal ngajak temen cewenya buat jalan rame2 sama temen2 lain. Nah waktu dalam perjalanan pulang dari jalan-jalan itulah, si cowok bakal nembak cewek yang disukainya.
2. Tidak bilang cinta, Cuma bilang suka
Pasangan pacaran di Jepang nggak pernah bilang Aishiteru (cinta) ke pasangannya. Mereka Cuma bilang Daisuki (suka banget) ke pasangannya. Hal ini karena ungkapan aishiteru hanya diungkapkan pria kepada wanita jika mereka sudah memutuskan akan melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan.
3. First date  di Restaurant mewah
Nah, ketika baru saja menjadi pasangan, cowok Jepang akan mengajak pacarnya untuk kencan pertama di sebuah Restaurant mewah. Kalo kencan-kencan selanjutnya sih boleh ajja jalan-jalan ke mall atau nonton bareng.
4. Tidak menjemput pasangan
Tradisi antar jemput pasangan di Jepang dengan di Indonesia ga sama. Karne di Jepang sebagian besar penduduknya menggunakan kereta sebagai sebagai sarana transportasi, maka pasangan pacaran lebih banyak bertemu di stasiun daripada menjemput ke rumah pasangannya. Begitu juga waktu pulang ngedate, cowok ga akan mengantar ceweknya nyampe rumah, mereka akan berpisah di stasiun. Ketika suda sampai di rumah masing-masing, si cowok bakal sms cewenya buat memastikan ceweknya nyampe rumah dengan keadaan selamat.
5. Tidak ada istilah traktir
Nah yang satu ini kayanya harus ditiru nih sama pasangan pacaran di Indonesia. Di Jepang ga ada tradisi cewek makan dibayarin cowoknya. Abis makan ya bayar sendiri2. Hehe, jadi hemat kan kalo pacaran kaya gini :D

6. Tidak mengenalkan ke orang tua sampe memutuskan untuk menikah
Di Jepang, mengenalkan pasangan ke orang tua ga akan dilakukan sampe bener2 serius dan memutuskan untuk menikah.
Gimana menurtmu kalo dibandingin dengan gaya pacaran orang Indonesia?

Pandangan Wanita Jepang Terhadap Pria Indonesia

By : MUNADIE








Secara keseluruhan di Jepang, penduduk pria lebih banyak daripada wanita. Dalam keluarga, perempuan bertanggung jawab semuanya, mulai dari mengurus suami dan rumah tangga. Tugas suami hanyalah bekerja mencari nafkah.  Manga dan film-film Jepang, baik seting lama maupun baru pun secara tidak langsung menunjukan hal tersebut. Jika satu keluarga akan berpergian, maka sang istrilah yang menyiapkan semuanya. Bahkan, sampai menyiapkan dan memasukan semua barang ke dalam mobil pun di lakukan oleh istri. Suami tinggal masuk mobil dan menyetir. Yang sering terlihat di mall atau di taman pun sama. Suami tidak pernah direpotkan dengan urusan anak. Anak belepotan makanan, baju kotor, ganti topi, membersihkan muka, dan semua ‘tugas kecil’ dilakukan semuanya oleh istri.
Tampaknya, bagaimana pria lebih superior dari wanita sudah terlihat sejak remaja. Lebih dari sekali terlihat, pasangan remaja, jika berpergian, maka yang membawa tas atau beban lebih banyak adalah yang wanitanya. Bahkan satu dua kali terlihat jika hanya ada satu sepeda, maka yang pria yang naik sepeda, sementara yang wanita jalan!
Itulah budaya Jepang dan tampaknya tidak ada masalah dengannya. Ini terbukti, dengan budaya yang sudah ratusan tahun itu, Jepang tetap bertahan dan maju sampai seperti sekarang.
Namun tampaknya pandangan beberapa wanita Jepang tentang budaya itu sedikit berubah saat mengenal lebih dekat kehidupan warga Indonesia di sana. Di wilayah Jepang, tepatnya di Sapporo, banyak pekerja dan mahasiswa Indonesia yang tinggal disana. Wanita-wanita Jepang ini mulai heran melihat kebiaasaan sederhana penduduk pria Indonesia yaitu melihat suami mencuci piring, atau suami membawa belanjaan di mall, atau suami yang menutup dan mengunci pintu saat sekeluarga berpergian, atau suami membantu mengganti baju anak di taman atau menyuapkan makanan kepada anaknya. Hal yang luar biasa juga untuk mereka melihat suami memasak dan menyiapkan makanan untuk istrinya, atau bermain dengan anak sementara istrinya duduk dan membaca.
Mereka pun merasa heran jika melihat mahasiswa pria selalu mengantarkan dan tidak membiarkan mahasiswi pulang sendirian malam-malam. Jepang adalah salah satu negara teraman di dunia. Tidak ada kekhawatiran untuk pulang malam sendirian. Mereka lebih heran lagi jika tahu alasan mengantar tersebut bukan karena takut ada apa-apa di jalan, tapi karena menghargai mereka. Mereka juga akan terheran-heran jika ada yang rela memberikan sepedanya untuk dinaiki sementara yang punyanya berjalan.

Mereka melihat bahwa bangsa Indonesia memiliki budaya yang lebih baik dibanding dengan budaya mereka, khususnya dalam hubungan pria dan wanita. Dua dari tiga teman wanita Jepang jika ditanya apakah suka dengan pria Indonesia, maka mereka menjawab suka dan yang ketiganya bahkan ingin menikah dengan pria Indonesia. Mereka memandang, pria Indonesia sangat menjunjung wanita, rela berkorban dan bertangggung jawab. Bahkan kebanyakan wanita Jepang, suka dengan pria Indonesia karena kulitnya yang sawo matang.

Sumber : Link

Mengapa Orang Jepang Suka Berpose Foto dengan Simbol "Peace"?

By : MUNADIE
Salah satu hal yang benar-benar populer diantara kebiasaan orang Jepang --- banyak orang Jepang suka berfoto dengan pose "Peace"




Kecenderungan orang Jepang untuk berpose seperti ini dikenal di seluruh dunia, setidaknya telah menarik perhatian wisatawan asing di Jepang



Simbol "Peace" di Jepang

Pose dengan simbol "Peace" mulai muncul dalam foto Jepang pada akhir tahun 1960. Pada saat itu, simbol "Peace" adalah bagian dari gerakan Hippie* di Amerika Serikat. Itu adalah simbol oposisi terhadap Perang Vietnam.

*Hippie = salah satu budaya di Amerika Serikat, dimana kaumnya bergaya seperti foto di bawah ini


Dari Hippie Untuk Budaya Jepang yang Sungguh Mainstream

Bagaimana bisa, simbol "Peace" yang berasal dari subkultur Hippie menjadi sebuah budaya bahkan kebiasaan bagi orang Jepang hingga sekarang? Hal tersebut belum diketahui jawabannya. Namun, hal tersebut dipercaya karena pengaruh dari pemain ski populer dari Amerika, Janet Lynn, atau komersial Konika Jepang pada tahun 1972. 

Apapun alasannya, sejak awal tahun 1972, kalangan muda di Jepang mulai suka berpose dengan simbol "Peace"


Peace vs Cheese

Berpose dengan simbol "Peace" biasanya dibarengi dengan mengucapkan "cheese" (dengan penyebutan dalam bahasa Inggris). Berkata "cheese" juga berguna untuk memberitahu sang fotografer bahwa mereka sudah siap untuk difoto. Berkata "cheese" juga membuat objek foto terlihat tersenyum alami dan photogenic.


Sekarang, simbol-V tersebut ditunjukkan dari berbagai sisi (telapak tangan di depan atau di dalam). Gestur tersebut tidak mempunyai perbedaan arti, hanya variasi pose belaka.



Membuat Ketagihan

Kalau kamu berkunjung ke Jepang, kemungkinan besar kamu akan mendapati diri kamu juga berpose dengan simbol-V. Sebenarnya, turis asing di Jepang juga meniru gaya berfoto seperti ini. Awalnya, pose yang mereka lakukan tersebut bermaksud untuk bahan candaan saja, atau untuk senang-senang saja. Memang sih, kalau dipikir-pikir, pose ini sudah tidak populer lagi baik di Indonesia atau di negara barat, bahkan dianggap kuno dan aneh. Namun, turis-turis ini mengaku ketagihan untuk berpose dengan simbol "Peace".






Namun, bagaimanapun juga, pose ini tetap menjadi favorit orang Jepang dan pencinta Jpop Culture

WarNet Plus Plus Di Jepang!

By : MUNADIE

Mumpung mendekati hari libur, yuk kita lihat-lihat seperti apa sih WarNet (Internet Cafe) di Jepang sana. lol

Seperti juga di Indonesia, internet cafe di Jepang juga cukup banyak walaupun boleh dibilang hampir setiap rumah sudah mempunyai koneksi internet. Dan kebanyakan juga buka selama 24 jam.


Ada beberapa hal mendasar yang membedakan antara WarNet disana dibandingkan dengan disini yaitu harga (mahal banget), kecepatan (cepet banget), kebutuhan (kaga cuma untuk internet).

Bicara mengenai harga, seperti biasa apa sih yang murah disana?  Lama penyewaan mulai dari 15 menit sampai setengah hari dengan biaya rata-rata sekitar 500 Yen (sekitar 50.000 rupiah) untuk 15 menit dan 1500 Yen (150 ribu rupiah) untuk 7-9 jam.

Nah, kalau bicara kecepatan sih tidak usah ditanya, rata-rata kecepatan internet disana saat ini minimal 10 Mbps jadi pasti jauh lebih cepat dibandingkan disini (Indonesia).

Internet cafe di Jepang juga kebanyakan tidak hanya sekedar tempat untuk ber-internet ria tetapi juga biasanya kita bisa membaca buku komk (manga) secara gratis dengan koleksinya yang lumayan banyak.


Dan bicara mengenai tempat itu sendiri, mereka biasanya membaginya dalam 2 bagian yaitu ruangan terbuka dan ruangan tertutup untuk privasi dengan bentuk bilik-bilik kotak (cubicles).

Dan tergantung permintaan, kita bisa memilih untuk satu bilik bisa diisi 1 orang, 2 orang atau lebih dari 2 orang. Dan kadang, mereka juga menyiapkan 2 komputer dalam satu bilik.

Sebagian besar bilik tersebut sudah dilengkapi dengan berbagai macam alat, mulai dari komputer itu sendiri, webcam, mic dan juga TV untuk menonton.


Bagi anda yang perokok seperti kami, jangan kuatir mereka juga menyediakan tempat bagi para perokok, lihat aja foto dibawah, itu ada asbak kan?? ngakak


Walaupun sedikit mahal untuk ber-internetan disini, ada satu hal yang lumayan membuat kita sedikit senang yaitu kita bisa minum sepuasnya sampai kembung (dan GRATIS) kecuali untuk makanan kecilnya, kita harus bayar.


Terakhir, bicara soal kebutuhan, belakangan ini ternyata internet cafe disana tidak sekedar untuk internet tetapi juga sebagai tempat tidur bagi orang-orang tertentu seperti pekerja paruh waktu atau sama seperti Love Hotels digunakan juga untuk tempat untuk bermalam bagi orang yang sudah ketinggalan kereta.

Alasannya sama saja dengan Love Hotels, yaitu internet cafe jauh lebih murah dibandingkan dengan mereka menginap di hotel, ditambah selain bisa tidur, mereka juga bisa internetan, baca komik (manga), mandi air hangat (ada kamar mandi tetapi harus bayar biasanya) bahkan minum sampai kembung.


Satu hal yang sebenarnya sekarang menjadi masalah tersendiri bagi pemerintah disana seiring dengan meningkatnya pengganguran dan juga orang yang mendadak tidak punya tempat tinggal (homeless) adalah keberadaan internet cafe sudah mulai berubah fungsi sebagai rumah sementara bagi mereka yang tidak punya tempat tinggal.

Sumber : keepo.me

5 Benda Yang Selalu Dibawa Pulang Ke Jepang Oleh Orang Asing

By : MUNADIE

5 Benda Yang Selalu Dibawa Pulang Ke Jepang Oleh Orang Asing


Buat kita-kita yang biasa berkunjung biasa ke Jepang buat liburan, mungkin pastinya kita bawa baju, koper, dan uang. Tapi bagaimana buat para orang asing yang tinggal di Jepang, atau bolak-balik ke Jepang karena urusan pekerjaan dan lainnya?
Pasti terasa beberapa benda atau hal yang biasa kita pakai atau punya di rumah di negara asal, tapi di Jepang tidak ada atau beda atau harganya mahal diluar logika (dibandingkan di negara asal) dan selalu membuat kita menyesal “Coba gw bawa … ke sini”.
Portal lifestyle Jepang Madame Riri menanyakan hal ini dalam sebuah survey, jadi barang apa saja yang biasanya harus mereka bawa pulang ke Jepang jika sempat pulang ke negara asal?
5. Bumbu Masak.
1363752898_493383991_1-Gambar--Jual-Bumbu-Masak-Tradisional-Indonesia
Kita semua tahu bedanya makanan Indonesia yang kaya bumbu dan rasa dibandingkan Jepang yang isinya kebanyakan kecap, cuka, dan gula. Bagi mereka yang kangen dengan citarasa lokal pasti minta ibu atau siapa untuk menyiapkan bumbu khas keluarga atau nge-stok bumbu instant untuk dibawa ke Jepang. Terutama saos sambal! Masakan yang biasa saya dengar dikangeni oleh teman yang sedang tinggal di Jepang itu biasanya Rendang, Gule, dan beberapa masakan yang rasanya kuat seperti Balado. Oh tidak lupa, Set Masakan Padang!
4. Kosmetik dan Perlengkapan Mandi
kosmetik
Biasanya berlaku buat wanita yang ogah gonta-ganti merek atau coba-coba berisiko. Sudah cocok dengan satu jenis atau merek tertentu, biasanya mereka harus stok dari rumah kalau tidak menemukannya di Jepang. Terutama buat orang Eropa dan Amerika, yang mana banyak berkomentar bahwa produk-produk kulit Jepang tidak cocok dengan kulit orang non-Asia
3. Obat-obatan
product-panadol24
Betadine di Jepang mungkin namanya bukan Betadine. Repot sekali kalau kita ke apotik dan ingin merek obat tertentu tapi ternyata namanya beda (meskipun efeknya sama) dan kita tidak tahu. “Mbak minta Betadine dong” “Betadine tte nani?” Wah berabe itu. Belum lagi kalau bahasa Jepang kita belum fasih, setidaknya bawa bungkus obatnya jadi tinggal tunjukkan bungkusnya, semoga mereka mengerti kita sakit apa dan butuh obat seperti apa, yang kita tidak tahu disana itu umumnya disebut apa.
2. Baju, Pakaian dalam, dan Sepatu
817995_beauty_house20model086
Bagi kita mungkin tidak terlalu masalah karena ukuran badan kita tidak terpaut jauh dengan orang Jepang, tapi bagaimana dengan orang Amerika atau Eropa yang besar-besar dan tinggi-tinggi? Biasanya mereka harus belanja di rumah sebelum pulang ke Jepang. Atau mungkin merasa belanja fashion di Jepang terasa jauh lebih mahal daripada di Tanah Abang? Bisa jadi.
1. Deodoran
axebodysprayad_1368811337
Alasannya karena hampir semua deodoran di Jepang berupa spray yang tidak tahan lama. Jika kamu punya kategori sendiri untuk barang-barang seperti ini lebih baik stok dari rumah. Jangan mau jadi bau untuk kencan pertama dengan wanita Jepang!
Itu adalah 5 benda yang paling populer untuk dibawa pulang ke Jepang untuk orang asing yang tinggal disana. Tapi bagi kita orang Indonesia? Tampaknya kita sepakat bahwa ada satu barang yang hampir semua orang pasti stok untuk dibawa
51l1ieflxhL
Indomie Berbagai Rasa!!
Masih perlu saya jabarkan mengapa? Ayolah…

Tokyo Skytree

By : MUNADIE


      

        Selama ini mungkin kita berpikir tokyo tower merupakan menara tertinggi yang ada di jepang,dan juga kita berpikir bahwa menara tertinggi di dunia adalah menara kanton di china....
       Semua itu memang benar sebelum Tokyo Skytree di bangun...ya,Tokyo Skytree tingginya sekitar 634 meter mengalahkan menara kanton di china yang tingginya hanya 600 meter,sementara struktur tertinggi di dunia dipegang oleh Burj khalifa,tetapi Burj khalifa memiliki kategori yang berbeda dengan Tokyo Skytree.
       Mau tau gimana pemandangan di dalam Tokyo Skytree?,atau hal-hal apa saja yang ada di dalamnya?,langsung aja tonton videonya....


- Copyright © Genki Kurabu - MUNADIE - Powered by Blogger - Twitter ADMIN MUNADIE -